Automatic Frequency Control Serba Guna
Rangkaian AFC (Automatic Frequency Control, pengatur frekuensi otomatis) ini cocok untuk frekuensi sampai 100 MHz, yang digunakan untuk pembangkit frekuensi, pembangkit bentuk gelombang dan untuk segala jenis pesawat penerima . Sinyal-sinyal yang akan dikontrol pertama diperkuat oleh dua tingkat transistor, T1 dan T2, kemudian diumpankan ke masukan D dwimantap/bistable, FF1. Masukan lonceng (clock) dari multivibrator ini dihubungkan ke Q8, pena 13 IC1. IC ini merupakan pencacah 14 tahap dari sebuah osilator yang dikontrol oleh sebuah kristal. Frekuensi keluaran dari osilator ini sebesar 32768 kHz sehingga akan didapatkan gelombang persegi 64 Hz pada keluaran Q8 (pena 13). Ini digunakan sebagai clock untuk FF1 sehingga sinyal masukan di cuplik 64 kali per detik. Bistabil FF2 diumpani dari keluaran Q9 (pena 15) IC1 untuk memberikan keluaran 16 Hz pada keluaran Q. Tepi belakang dari sinyal cuplikan dan tepi sinyal 16 Hz yang mendahului tersebut dijumlahkan/dicampur oleh C4,C5, D1, R7 dan R8 dan diberikan ke masukan membalik op-amp IC3. Masukan tak membalik dari IC ini (berikut pertemuan D2) ditetapkan pada setengah tegangan sumber melalui resistor R9, R10 dan Kondensator C6. IC3 memadukan perbedaan antara keluaran FF1 dan FF2, dan sinyal keluarannya diambil setelah melalui tapis lulus bawah (low pass filter, R12, C9) dan bisa digunakan untuk penalaan halus dari frekuensi osilator (misalnya dengan menggunakan varicap).
Dengan menggunakn frekuensi cuplikan dan frekuensi acuan maka penalaan yang halus dapat berubah dengan jangkah ± 16 Hz dan pemisahan antara dua jangkah selalu 64 Hz. AFC ini mengatur frekuensi osilator karena frekuensinya selalu mendekati kelipatan 64 Hz. Sekali osilator ini diatur, maka kemantapan frekuensinya lebih baik dari 1 Hz.
Sebuah indicator/penunjuk yang dibentuk oleh T3…T8 yang juga dihubungkan dengan keluaran dari IC3. T3 dan T4 dirangkai sebagai suatu sumber arus serta D3 memberikan tegangan acuan. Keluaran dari sumber arus ini digunakan untuk dua buah rangkaian pembanding, T5/T6 dan T7/T8 yang masing-masing dihubungkan dengan sebuah dioda. Tegangan keluaran dari IC3 dibandingkan dengan setengah tegangan sumber (yang dihubungkan ke T6 dan T8) oleh T5 dan T7. Jika tegangan keluaran dari IC ini lebih rendah dari setengah tegangan sumber (ini terjadi saat frekuensi osilator terlalu tinggi) maka bagian LED D4 yang berwarna merah dan bagian LED D5 yang berwarna hijau akan menyala; serta bila frekuensi osilator terlalu rendah maka bagian LED D4 berwarna hijau dan bagian LED D5 yang berwarna merah akan menyala. Pada saat tegangan keluaran dari IC3 tepat sama dengan setengah tegangan sumber, berarti frekuensi dari osilator ini tepat, dan ini menyebabkan kedua LED itu menyala dengan mengeluarkan warna jingga/kuning, dan bial kedua LED itu mengeluarkan cahaya yang sama maka AFC ini tepat pada tengahnya. Cara penalaan yang di tunjukkan dengan menggunakan LED adalah cara yang paling akurat.






